m. arif am
Drs. M. ARIF AM, M.A.
STAI Miftahul 'Ula Nglawak Kertosono

       Kini dunia seolah-olah tanpa ada lagi batas wilayah dan waktu ,kita dapat mengetahui segala peristiwa yang terjadi dibelahan bumi dengan mudah dan jelas dan dalam waktu sekejap.
Dalam era globalisasi telah terjadi pertemuan dan gesekan nilai-nilai budaya serta agama yang memanfaatkan jasa komunikasi,transformasi dan informasi hasil moderniasasi teknologi


A. Pengertian Era Globalisasi

       Istilah globalisasi sering diberi arti yang berbeda antara yang satu dengan lainnya ;
1.Akbar S. Ahmad dan Hasting Donnan memberi batasan bahwa glonalisasi. Pada prinsipnya mengacu pada perkembangan-perkembangan yang cepat didalam teknologi komunikasi , transformasi, informasi yang bisa membawa bagian –bagian dunia yang jauh (menjadi hal-hal) yang bisa dijangkau dengan mudah (Azizy, 2004).
2.Globalisasi adalah bagian dari perubahan ruang, gerak dan waktu dari nilai-nilai manusia secara universal menuju sebuah spectrum keluarga besar masyarakat dunia (Global Citizen) dengan berbagai konsekuensi terjadinya benturan nilai& kepentingan (Winarti ;2002).

          Ahmed dan Donnan memberikan contoh tentang kasus buku Satanic Verses tulisan Salman Rusdio diakhir tahun 1980-an. Hanya dalam waktu ukuran jam, apa yang terjadi di Inggris, dengan mudah sudah ada respons di Pakistan dan India. Protes meledak dimana-mana, begitu cepatnya berita tentang buku tersebut merebah ke seluruh penjuru dunia, sebagai perwujudan era komunikasi, transformasi dan infromasi. Contoh yang dikemukakan Ahmed dan Donnan tersebut bisa dikatakan sebagai hal yang positif menurut kacamata Islam. Dan disana berjuta-juta contoh yang bernilai negatif, seperti pengaruh budaya Hollywood dan ekses negatif , seperti budaya perpustakaan tersebut.
        Prof.A.Qodri Azizy, mengemukakan disini, bahwa dalam era globalisasi ini berarti terjadi pertemuan dan gerakan nilai-nilai budaya dan agama diseluruh dunia yang memanfaatkan jasa komunikasi, transformasi dan informasi hasil modernisasi teknologi tersebut.
Pertemuan dan gesekan ini akan menghasilkan kompetisi liar yang berarti saling dipengaruhi (dicaplok) dan mempengaruhi (mencaplok) saling bertentangan dan bertabrakan nilai-nilai yang berbeda-beda. Yang akan menghasilkan kalah atau menang atau saling kerjasama (electic) yang akan menghasilkan sintesa atau anti tesa baru.
       Ambil contoh, dengan antena parabola dan berlangganan indovision, maka kita bisa menghadirkan dunia kita melalui TV,kita akan menerima suguhan berita,adegan, peristiwa dan semacamnya yang tidak mungkin bisa kita saksikan secara langsung. Dari sekian banyak jenis dan dari sekian banyak Negara dan budaya yang bermacam-macam, kita akan dijejali atau dipaksa untuk menyaksikan hal-hal tersebut. Sudah barang tentu dalam program dan acara disana, baik secara langsung atau dalam program dan acara disana, baik secara langsung atau didalam pribadi kita, akan terjadi gesekan, tabrakan atau kompetisi nilai budaya dan semacamnya.
Dari sekian contoh itu yang paling menonjol adalah nilai dan peran materialisme. Hampir semuanya akan diukur dengan berapa tebal kantong kita?. Ketika kita berada disituasi seperti itu kompetesi yang muncul pada akhirnya adalah berkaitan dengan kemegahan materiil. Dan muncullah penilaian, meskipun kemajuan itu pada dasarnya netral, dan globlisasi ini juga netral. Maka yang dominan pada akhirnya adalah dominasi itu sendiri (Azizy, 2004:19-21) .

B.Globalisasi Sebagai Ancaman Atau Tantangan
       Pergaulan global sudah tidak dapat lagi dihindari oleh seseorang, kecuali ia sengaja mengkungkung diri dengan menjauhi interaksi dan komunikasi dengan yang lain. Ketika seseorang masih membaca surat kabar,menonton TV, atau dengan menggunakan alat lainnya , terlebih lagi dengan menggunakan internet, ia tetap akan terperangkap dalam proses dan model pergaulan golobal. Istilah “Globalisasi” yang sangat populer itu, dapat pula berarti ideologi. Alat, oleh karena merupakan wujud keberhasilan ilmu teknologi , terutama sekali dibidang komunikasi. Ketika globalisasi berarti alat, maka globalisasi sangat netral. Artinya, ia berarti dan sekaligus mengandung hal-hal yang positif, ketika dimanfaatkan untuk tujuan yang baik. Sebaliknya, ia akan dapat berakibat negatif jika di gunakan untuk tujuan yang tidak baik. Dengan demikian, globalisasi, akan tergantung kepada siapa sajayang menggunakannya dan untuk keperluan apa serta tujuan kemana ia dipergunakan. Jadi,sebagai alat dapat bermanfaat dan dapat pula mudharat. Terobosan teknologi informasi dapat dijadikan alat untuk dakwah ; dan dalam waktu bersamaan dapat pula menjadi “biang kerok” ancaman dakwah.
        Sedangkan ketika globalisasi sebagai ideologi, sudah mempunyai arti sendiri dan netralitasnya sangat berkurang. Oleh karena itu, tidak aneh kalau kemudian tidak sedikit yang menolaknya. Sebab, tidak sedikit akan terjadi benturan nilai, antara nilai yang dianggap sebagai ideologi globalisasi dan nilai agama,termasuk agama Islam. Ketika bermakna ideologi itulah , globalisasi atau juga pergaulan hidup global haru ada respon dari agama-agama, termasuk Islam. Baik sebagai alat maupun sebagai ideologi.
Pertama Sebagai Ancaman
       Akhir-akhir ini kita ketahui banyak bermunculan gaya pergaulan dikalangan anak muda. Seperti, kelompok ABG gedongan, kelompok eksekutif, kelompok anak muda sukses, kelompok anak orang kaya, dan masih seribu satu conot hkelompok yang dibangun atas dasar gengsi. Yang itu semua tidak terlepas dari gaya hidup global.
      Dalam pendefinisian itu, disana banyak ancaman budaya berupa kebebasan yang datang dari dunia sekuler yang umumnya Barat. Dan ketika kebebasan ini berlebihan, maka nilai-nilai dan norma budaya lokal dan nasional, terlebih lagi nilai agama. Akan terasa terancam olehnya. Tentu saja kebebasan disini tidak dalam pengertian yang positif seperti kebebasan menyampaikan pendapat kritik sosial dan semacamnya.
Sdangkan kebebasan negatif akan mengancam pada masyarakat yang terlalu mudah hanyut untuk berimitasi globalisasi atau akan menjadi lingkaran setan bagi mereka (Azizy, 2004:.23-24).
Kedua , Sebagai Tantangan
Globalisasi yang bermula dari barat tersebut, menjadi tantangan bagi kita (orang Indonesia). Bagaimana agar nilai-nilai positif yang ada di barat tersebut masuk ke bangsa kita dan dapat pula dipraktekkan ditengah-tengah masyarakat kita,seperti budaya disiplin,kebersihan,tanggung jawab, egalitarianisme, kompetisi, kerja keras dan masih banyak lagi contoh2 positif yang perlu diambil.
      Dipihak lain, globalisasi itu memberi pengaruh hal-hal ,nilai dan praktek yang positif. Maka seharusnya  menjadi tantangan bagi bangsa Indonesia untuk mampu menyerapnya, terutama sekali hal-hal yang tidak mengalami benturan dengan budaya lokal atau nasional terutama sekali nilai agama. Dengan kata lain,bagaimana agar nilai-nilai positif yang ada di barat atau bahkan dibelahan negara lain, dapat masuk ke bangsa kita dan dapat pula dipraktekkan ditengah-tengah masyarakat kita, seperti kompetisi,kerja keras,budaya disipli, kebersihan , tanggung jawab , egalitarianisme, penghargaan terhadap orang lain. Terpanggil untuk membantu orang lain yang memang membutuhkan bantuan, demokratisasi dan semacamnya. Disinilah seharusnya agama mampu memberi bimbingan kearah yang terang itu.

      Lebih dari itu, bagaimana kita mampu memberi pendidikan kepada anak-anak kita dan bangsa kita agar ketika mereka tahu nilai yang negatif, mereka akan menghindarinya, bukan meniru. Sebaliknya, ketika mengetahui nilai-nilai yang positif dan bermanfaat untuk bangsanya, mereka akan meniru dan akan mengadopsinya, bukan malah menghindarinya. Ini berarti berkaitan dengan banyak aspek, termasuk pendidikan, kemauan politik, praktek hukum dan tidak ketinggalan contoh dari para pimpinan kita. Laulu bagaimana untuk yang kedua ini? Itulah, maka kita perlu membuat landasan untuk kehidupan kita

C.Strategi Pendidikan Yang Mengacu pada Masa Depan dan Berorientasi pada Pengembangan  Kemampuan Potensi Peserta Didik.
       Sangat penting untuk disadari, bahwa kemampuan peserta didik dalam mengambil peran produktif, yang akan menentukan ukuran sukses dalam hidupnya nanti adalah perlunya perhatian yang lebih besar pada pengembangan kapasitas inner force peserta didik, penanaman dan pengembangan nilai-nilai hidup dalam diri seorang menjadi sangat penting seperti kapasitas menggali dan memanfaatkan peluang yang tersedia guna membangun diri sendiri dan masyarakat.
       Skala kecerdasan yang selama ini dipakai (IQ) hanya memberikan kontribusi antara 4-25% pada sukses karier seseorang The Moral Intellegence of Children, seperti diungkapkan oleh Robert Coles (1997), yang menyatakan bahwa disamping IQ, anak memerlukan kecerdasan moral yang juga memegang peranan penting bagi kesuksesan seseorang dalam hidupnya.kecerdasan moral ditandai dengan kemampuan seorang anak untuk menghargai dirinya sendiri maupun orang-orang sekelilingnya. Mengikuti aturan-aturan yang berlaku dan itu semua merupakan kunci keberhasilan bagi seorang anak dimasa depan.
       Visi pendidikan yang dirumuskan oleh UNESCO menggariskan bahwa pendidikan adalah mendidik anak untuk belajar berfikir, belajar hidup, belajar menjadi diri sendiri dan belajar untuk belajar hidup.
Menyimak saran untuk Back to Basics, seperti yang dinyatakan oleh Jhon Naisbit “Learn to think/to write, learn now to learn and learn to create ; disarankan oleh A. Winoto Doeriat untuk perguruan tinggi, agar lebih siap menghadapi era globalisasi dan revolusi teknologi (dalam simposium Atmajaya, Menggapai profesionalisme, Mei 1995). Hal ini menggambarkan bahwa pendidikan dasar dan menengah belum berhasil merealisasikan hakikat pendidikan yang paling dasar sehingga Perguruan Tinggi disarankan untuk bisa mencipta, dan harus mulai lagi dari awal yaitu learn to think/ to write and learn how to learn. Bahkan di Fakultas ekonomi perlu diajarkan bahasa Indonesia agar Mahasiswa dapat menulis skripsi dengan baik dan benar.

D.Persiapan SDM Dalam Mengahadapi Globalisasi
1. Perlunya landasan
Dalam menghadapi era globalisasi yang penuh dengan kompetisi, yang harus dilakukan adalah penyediaan sumber daya manusia yang memiliki kesiapan mental sekaligus kesiapan kemampuan (skill) atau manusia profesional, namun demikian menjadi manusia profesional haruslah mempunyai landasan yaitu ajaran agama kita, Islam. Dan dibutuhkan juga landasan motivasi, inspirasi dan aqidah. Agar mampu menjawab tantangan dan menghadapi ancaman ajara Islam memberikan petunjuk sebagai berikut ;
a.    Menumbuhkan kesadaran kembali tentang tujuan hidup menurut Islam. Manusia, baik sebagai hamba Allah, maupun kholifah Allah tetap dalam konteks mengabdi kepada Allah dan berusaha untuk memperoleh ridho-NYA dan keselamatan didunia akhirat. Disini iman dan taqwa sangat penting untuk dijadikan landasan hidup . kita sadar bahwa kepuasan lahiriyah yang pernah dinikmati oleh manusia, hanyalah sementara. Dengan kesadaran itu, maka kita akan sanggup mengatur diri kita, dan pada akhirnya mampu merasakan kenikmatan yang hakiki ketika kita berbuat baik; hal ini baik untuk hal-hal hubungannya dengan Khaliq maupun antar sesama umat manusia. Dengan demikian, ketika kita akan terbawa arus globalisasi, maka kita akan selau ingat kesadaran keberagaman kita, yang mempunyai aturan main didunia dan akhirat.
b.    Mempertanggung jawabkan apa yang diperbuat didunia, baik formalitas administratif sesuai ketentuan yang ada didunia sendiri maupun hakiki yang menceburkan diri dalam kehidupan globalisasi, maka kita juga selalu sadar akan tanggungjawab kita sendiri terhadap apa yang kita perbuat. Setitik apapun yang dilakukan oleh seseorang , ia akan dimintai pertanggungjawabannya (Azizy, 2004 :32 – 33). .Sebagaimana disebutkan dalam Surat Az-Zalzalah ayat 7-8. yang artinya ;
7  Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya Dia akan melihat (balasan)nya.
8.  Dan Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya Dia akan melihat (balasan)nya pul.( DEPAG ;1982).
        Dinamika gerakan kemasyarakatan dan gerakan tindingan bsia saja berlangsung berdekade-dekade dan malah beratus-ratus tahun dalam penampakan dirinya di atas pentas sejarah. Mengidentifikasi “sukses” atau “gagal” nya sebuah gerakan kemasyarakatn juga mencakup pembahasan tentang keberlangsungannya dalam jangka waktu yang lebih panjang. Gerakan kemayarakatn perlu melihat lebih cermat tidak hanya ideologi-ideologigerakan, tetapi juga cara bagaimana system-sisten kepercayan yag sudah lebih dulu ada  di dalam masyarakat ( Arif AM, 2008 : 37).     
2. Persiapan SDM dengan kriteria pribadi berkualitas
a.    Aspek Intelektual
    Kemampuan Analisis
    Kemampuan Fokus
    Kemampuan Organisasi
    Kemampuan Teknis Praktis
    Kemampuan penguasaan multibahasa, dasar : Indonesia dan Inggris; Pilihan tambahan ; Mandarin, Perancis,Jepang (salah satu)
    Menyenangi bukti, musik, kesenian, filsafat, dan Ilmu pengetahuan
    Bekerja keras untuk mendapatkan nilai/hasil yang baik.
    Memiliki wawasan nasional dan internasional
    Sistematika kerja, kecepatan kerja ketelitian kerja.
b.    Aspek Ketrampilan

c.    Aspek Kepribadian ; 16 Nilai Dasar ( Basic Values)
1.    Integritas tinggi
≈    Terbuka
≈    Konsisten
≈    Berorientasi hasil
≈    Rajin
≈    Disiplin
≈    Kontrol Diri
≈    Keberanian
≈    Kesederhanaan
≈    Pendengar yang baik
≈    Bisa dipercaya
≈    Mempunyai tujuan jelas
≈    Memikirkan orang
≈    Jujur
≈    Memiliki prinsip
≈    Memanfaatkan peluang
≈    Mengakui kesalahan
2.    Kemandirian
3.    Kreatif
4.    Berani mengambil resiko
5.    Humor
6.    Daya Tahan
7.    Rasa hormat
8.    Suka menolong
9.    Kerjasama
10.    Semangat belajar seumur hidup
11.    Pemberdayaan
12.    Kepemimpinan
13.    Komitmen
14.    Kebanggaan
15.    Keadilan
16.    Kesabaran (Widyawati, 2002).
0 Responses

Posting Komentar